Categories
Uncategorized

Perkembangan Zaman Memaksa Diri untuk Melek Kondisi dunia

Akses UMKM

Selanjutnya, UMKM juga dikembangkan untuk mendukung program utama BI di bidang stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan dan stabilitas sistem pembayaran. Pembuatan klaster komoditas volatile food salah satu upaya mengembangkan UMKM yang dapat mendukung pasokan komoditas pendonor inflasi dalam kerangka moneter. Sedangkan dalam kerangka mendukung stabilitas sistem keuangan, BI menar getkan bisa meningkatkan akses keuangan UMKM. “Bagaimana supaya UMKM ini memiliki akses (pembiayaan) yang mudah dengan harga yang wajar. Se karang ‘kan sudah susah, bunganya tinggi lagi,” urainya. Sari memaparkan dua strategi yang ditempuh untuk meningkatkan akses pembiayaan UMKM. Pertama, menerbitkan per aturan yang mengharuskan bank menyalurkan kredit pada UMKM. Kedua, membuat UMKM layak untuk diberi kredit perbankan dengan meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya, seperti mengangkat kemampuan literasi keuangan.

Untuk mendukung kelancaran sistem pem bayaran, UMKM juga didukung melakukan gerakan non-tunai. “UMKM melakukan transaksinya non-tunai. Misalnya, dia beli bensin, solar pakai kartu. Nanti dapat ikan, dijual, uangnya masuk ke kartu,” ucap dia. Meski sulit mengakses keuangan, ia berpendapat, para pelaku UMKM Indonesia itu pintar, kreatif, tahan banting, dan potensial meningkatkan perekonomian nasional. “Krisis begini, coba lagi usahanya. Terus, dia menjadi motor perekonomian dan outlet saat perekonomian suram. Misal orang banyak yang di-PHK, akhirnya jualan, bikin jus atau apa, itu kan outlet. Kalau nggak, bisa jadi social unrest (kerusuhan sosial) lho,” papar penggemar jajanan bakso dan somay itu antusias.

Memperkaya Diri

Menilik kiprah yang mencapai 24 tahun di BI, Sari tak henti memperkaya diri dengan berbagai wawasan. Selain kerap mengikuti pelatihan internal, perempuan murah senyum ini aktif membangun jaringan alumni. Ia pun banyak membaca bu ku. “Baca buku suka dan dipaksa juga,” jedanya sambil tertawa, “Senang baca yang ringan-ringan lho ya tapi perkembangan ini memaksa kita untuk harus tahu.” Mengaku menikmati memiliki waktu sendiri yang dimanfaatkan untuk membaca dan berpikir dengan tenang, Sari juga senang berkumpul dengan sejawat. Dia menilai, sangat penting membina hubungan dengan berbagai kelompok dan komunitas untuk menjalin silaturahmi dan menambah wawasan. “Kalau kumpul sama orang yang setipe, kita akhirnya jadi kayak radikal, merasa paling benar. Sesekali jadi minoritas perlu juga supaya kita tahu gimana rasanya,” petuahnya mendalam. Meski cukup direpotkan perekonomian negara, penyuka traveling ini toh tetap senang menjelajah mal, supermarket, hingga pasar tradisional. “Saya masih suka ke pasar basah, mengamati, melihat secara langsung dan ngobrol. Itu ‘kan nggak ada di supermarket,” tutupnya semringah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *