Categories
Uncategorized

Tiga Tips Perlindungan Udang ala Alltech

Amonia dalam air adalah salah satu isu di budidaya udang. Menurut Hery Santoso, amonia bisa men jadi pembunuh udang. Dalam proses nitrifikasi, amonia diubah menjadi nitrit kemudian men jadi ni trat oleh bakteri nitrifikasi. Ji ka proses nitrifikasi terputus, salah satu dari ketiga para me ter itu akan naik. “Amonia akan sangat berbahaya, sa ngat beracun dalam kondisi tertentu, demikian juga ni trit,” tegas General Manager PT Alltech Biotechnology Indonesia itu. Amonia adalah hasil samping metabolisme nitrogen pada hewan air, seperti udang dan mikroba. Aku mulasi amonia menimbulkan ba nyaknya fitoplankton dan mem buruknya kualitas air sehingga udang stres dan imun turun.

Mencegah Bahaya Amonia

Hery menjelaskan, bahan organik yang berasal dari pakan, plankton, dan bakteri, berperan dalam pembentukan amonia. Kadar amonia meningkat seiring naiknya bahan organik di tambak. Menilik siklus hidup si bongkok, kadar amonia mulai naik signifikan saat udang berumur 45 hari ke atas. Karena itu penting mengukur kualitas air setiap hari. “Jangan sampai amonia memberi efek negatif pada udang,” ucapnya. Level amonia ini diukur dalam bentuk total amonia nitrogen (TAN). Ketika kadarnya mendekati ambang batas, Hery menganjurkan penggunaan De-OdoraseTM guna mencegah kenaikan kadar amonia. De-OdoraseTM mengandung ekstrak tanaman yucca yang bisa mengikat gas, termasuk amonia. Yucca mengandung glycocomponents, yaitu senyawa berefisiensi tinggi untuk menyerap amonia. Selain itu, ada enzim dan bakteri menguntungkan yang bisa meningkatkan kecernaan dan membantu memecah sisa ampas bahan padat. Aplikasi DeOdo raseTM sejak hari pertama mem bantu menjaga level amonia tetap rendah sepanjang siklus budidaya.

Efisiensi Pakan

Selain itu, Alltech menyediakan solusi efisiensi pakan. “Ini kaitannya dengan kua litas air juga karena kita meng efisienkan penggunaan pakan. Nutrisi lebih banyak diserap, limbah yang dikeluarkan lebih sedikit,” papar pria kelahiran 19 Juli 1975 itu. Menggunakan Allzyme® SSF membuat nilai konversi pakan (feed conversion ratio-FCR) turun dan produktivitas udang meningkat. “FCR dari 1,6 turun jadi 1,48 dan produktivitas naik 10%- 15%,” ucapnya. Allzyme® SSF terdiri dari 7 enzim aktif yang diproduksi cendawan Aspergillus niger melalui fermentasi dalam kondisi padat. Enzim ini bekerja sinergis mengurai komponen pakan sehingga nutrisi lebih mudah diserap. Dosis Allzyme® SSF sebanyak 1 g/kg pakan. Udang yang menderita white feces disease (WFD) kemampuan menghasilkan enzim ber kurang sebab hepatopankreas, tempat memproduksi enzim, bermasalah. Enzim dalam Allzyme® SSF membantu udang menyediakan nutrisi siap serap.

Sistem Imun

Guna menjaga sistem imun secara ke seluruhan, ada Aquate Defender. Ini salah satu solusi kom prehen sif untuk meningkatkan keuntungan budidaya dari sisi kesehatan. Aquate Defender mengan dung bahan aktif yang bisa mempertahankan kondisi vili usus lebih sehat. Bahan aktif yang berasal dari campuran mineral organik dan ekstrak ragi Saccha romyces cerevisiae itu memproduksi mukus (lendir) di dalam sel goblet vili se hingga bakteri tidak bisa ber koloni dalam vili. Bahan aktif ini mampu mengikat bakteri patogen, seperti Vibrio parahaemolitychus dan mengeluarkannya bersama feses. Aquate Defender disebut pemicu pertumbuhan alami karena ada nutrisi protein berdaya serap tinggi, seperti nukleo tida dan asam glutamat. Sebab nutrisi tinggi ini produktivitas tambak udang di Banyuwangi, Jatim, naik 2-3 ton/ha. Produk alami itu juga berisi trace mineral, yaitu Zinc dan selenium. Se lenium berfungsi sebagai antioksidan untuk menurunkan stres akibat stres nutri si, penyakit, atau lingkungan. Se dangkan Zinc sebagai katalis sehingga sekresi enzim lebih optimal. Dosis Aquate Defender sekitar 5-10 g/kg pakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *