Categories
Agribisnis

Ini Lho, Pusat Bibit Buah Nusantara

Petani buah tropika patut bergembira. Selasa, 12 Desember lalu, Menteri Ristek dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir meresmikan Pusat Bibit Buah Nusantara di Ciater, Subang, Jawa Barat. “Di sini menyediakan bibit yang berkualitas,” katanya pada saat peluncuran pusat bibit buah itu.

Pusat bibit buah ini hasil kerjasama an tara PT Botani Seed Indonesia (anak per usahaan PT Bogor Life Science Technology atau BLST) dan Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB Bogor. Menempati ka wasan seluas 5 ha yang nantinya bisa ber kembang menjadi 25 ha di lahan milik PT Perkebunan Nusantara VIII, pusat bibit ini da pat menjadi salah satu pilar dari Revo lusi Oranye.

Revolusi Oranye merupakan upaya-upaya untuk meningkatkan kemampuan bang sa kita menghasilkan buah-buah tropika. “Pola konsumsi kita sudah bergeser dari karbohidrat yang tinggi ke arah konsumsi buah dan sayuran,” ujar Herry Suhar diyanto, Rektor IPB saat itu, ketika berpidato pada peluncuran Pusat Bibit Buah Nusantara itu.

Bibit Terstandardisasi

Salah satu jawaban untuk mengantisipasi peningkatan konsumsi buah di Indo nesia itu adalah menghasilkan bibit buah tropika yang terstandardisasi dan bermutu. “Bibit buah yang berkualitas dan terstandardisasi sehingga buah yang diha silkan tidak kesulitan masuk ke pasar,” ulas Nasir.

Saat ini, di pusat bibit buah tersebut tersedia satu juta benih pepaya Calina (pepaya California), 45 ribu bibit durian (varietas pelangi, matahari, dan montong), 25 ribu bibit alpukat (wina dan kendil), 45 ribu bibit jeruk (siam madu dan keprok batu 55), dan 40 ribu bibit lengkeng (kateki dan itoh).

Tidak hanya itu. “Jumlah dan jenis bibit buah nasional unggulan terstandardisasi ini akan terus ditambah,” kata Herry. Antara lain bibit buah manggis, salak, dan mangga. Secara fisik, di pusat bibit tersebut terdapat green house seluas 1.120 m2 dan nethouse 4.500 m2 , yang dilengkapi de ngan irigasi mekanik sistem sprayer dan sprinkler.

Konstruksi pembangunan fasilitas ini dilakukan PT Agricon Sentra Agribisnis Indonesia, anak perusahaan Agricon, Bogor. “Pusat industri bibit buah ini juga didukung perkebunan percobaan IPB di Tajur, Bogor, dan mitra-mitra lembaga penelitian buah dan penangkar di berbagai sentra produksi,” jelas Herry.

Selain itu pusat bibit buah ini sudah melatih sebanyak 52 penangkar dari 17 provinsi sehingga mereka mampu menghasilkan bibit buah bermutu sesuai standar Botani Seed Indonesia. Perusahaan ini pun memberikan layanan konsultasi pembangunan kebun buah bagi para investor dan pengusaha buah.

“Ya, kita juga menyediakan analisis usaha dan pembangunan kebun buah. Lebih jauh lagi, kalau ada orang punya kebun nggak mau ngapa-ngapain, kontrakin aja ke kita,” timpal Dadang Syamsul Munir, Direktur Botani Seed Indonesia.

Teaching Industry

Pusat bibit buah ini, menurut Jumain Appe, merupakan rangkaian hilirisasi hasil-hasil penelitian dan pengembangan yang dilakukan IPB menjadi suatu industri start up (rintisan) yang nantinya akan berkembang secara nasional untuk mendukung industri buah tropis nasional.

“Kegiatan ini didanai dengan skema pendanaan inovasi perguruan tinggi di industri oleh Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi,” papar Dirjen Penguatan Inovasi, Kemenristek Dikti, dalam sambutannya. Dana yang dikucurkan untuk pembiayaan Pusat Bibit Buah Nusantara ini pada 2017 sekitar Rp8,1 miliar. Skema pendanaan ini berupa teaching industry, yaitu pembelajaran yang berorientasi industri.

“Teaching industry ini akan dapat mendekatkan aktivitas belajar mengajar dan penelitian pada perguruan tinggi dengan praktik yang biasa dilakukan industri,” lanjut Jumain. Dalam seremoni peluncuran pusat bibit buah itu, secara simbolis IPB memberikan bibit durian varietas pelangi kepada Mohamad Nasir, bibit lengkeng varietas kateki kepada Bupati Subang Hj.

Imas Aryumningsih, SE, dan bibit alpukat wina kepada Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Banggai Maryam. Semoga pemberian bibit secara simbolis ini dapat mendukung pengembangan Pusat Bibit Buah Nusantara jadi salah satu pilar Revolusi Oranye.

Pada peninjauan di lapangan Mohamad Nasir sempat melakukan praktik sambung pucuk bibit alpukat di pusat perbanyakan bibit. Batang bawahnya berupa alpukat lokal, sedangkan batang atas (entres) alpukat varietas wina. “Nah, ini perlu diuji, apakah pohon yang satu dengan yang lain mempunyai standar kualitas yang sama, supaya nanti mudah masuk pasar,” jelas Nasir.

Kehadiran Pusat Bibit Buah Nusantara ini bakal meyakinkan pekebun buah tropis bahwa mereka bisa mendapatkan bibit buah yang bermutu. Bibit atau benih yang bermutu dapat meningkatkan nilai tambah bagi petani.

Categories
Agribisnis

Maksimalkan Lahan Masam dengan Fosfat Alam Reaktif

Indonesia mempunyai total luas lahan pertanian sekitar 148 juta ha. Sekitar 68%-nya atau 104 juta ha berupa lahan ma sam yang tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Lahan masam tersebut banyak dimanfaatkan untuk tanaman pangan seperti jagung dan kedelai. Sementara subsektor perkebunan banyak menanaminya dengan kelapa sawit.

Lahan masam tergolong tanah suboptimal karena tingkat kesuburannya rendah. Salah satu masalahnya adalah ketersediaan fosfat (P) dalam tanah. “Fosfat seperti dalam SP-36 atau TSP segera terjerap oleh besi (Fe) dan aluminium (Al) yang mendominasi tanah,” jelas Husnain,

Kepala Balai Penelitian Tanah (Balittanah), Badan Litbang Kementan, pada acara Temu Lapang Petani di Way Jepara, Lampung (11/12). Ka rena itu, lanjut wanita yang akrab disapa Uut itu, diperlukan pupuk P yang ber sifat lepas bertahap (slow release) dan reaktif.

Aplikasi di Lahan Jagung

Indonesia melalui Balittanah bekerja sama dengan Office Chérifien des Phosphates (OCP S.A., BUMN pupuk asal Maroko) melakukan penelitian jangka pan jang. Penggunaan fos fat alam dari Maroko harus dikombinasikan dengan aplikasi pupuk berimbang. Wayan Sukade, petani jagung di Braja Har josari, Braja Slebah, Lampung Timur mengakui adanya peningkatan hasil dengan aplikasi pupuk berimbang tersebut.

Pada proyek percontohan di Lampung, fosfat alam diaplikasikan di lahan petani seluas 50 ha milik 53 petani. Tanah para petani itu bertekstur liat berpasir, pH 4,5-5, kandungan bahan organik dan unsur NK rendah, dan unsur P-nya sedang. Pada percobaan ini, petani menanam benih jagung hibrida. Aplikasi pemupukan dilakukan dengan dosis fosfat alam Maroko sebanyak 1 ton/ha, dan NPK plus pupuk organik 2 ton/ha.

Selain itu, ada juga per lakuan super impose dengan mengaplikasikan 1 ton fosfat Maroko, 0,5 ton dolomit, 2 ton pupuk kandang, 0,4 ton urea, 25 kg SP-36, dan 0,1 ton KCl. “Hasilnya bagus, naik 20%- 30%. Biasanya 5 ton, sekarang bisa mencapai 7-8 ton,” jelas Wayan. Menurut Uut, penggunaan pupuk fosfat alam bisa menekan ongkos produksi.

“Residu pupuk bisa bertahan sampai lima kali musim tanam. Efisiensi biaya hingga 30%,” paparnya. Selain di Braja Harjosari, penelitian juga dilaksanakan di Taman Bogo, Lampung dan Banyuasin, Sumsel. Hasil penelitian menunjukkan, produktivitas jagung rata-rata mencapai 8-9 ton/ha. Bahkan di Tanah Laut, Kalsel, bisa mencapai 10-12 ton/ha.

Percobaan di Lahan Sawit

Selain di lahan jagung, Balittanah juga menguji fosfat alam reaktif di perkebunan kelapa sawit yang banyak tersebar di lahan masam. Menurut Zulkarnain Harianja, Manajer Unit Usaha Bunut, Afdeling III, PTPN VI, kelapa sawit membutuhkan pupuk P.

“Fosfat alam baik untuk memacu pertumbuhan akar, pembentukan bunga, dan mempercepat panen pada perkebunan kelapa sawit,” jelasnya saat membuka acara temu lapang di Desa Pinang Tinggi, Kecamatan Bunut, Muaro Jambi (13/12). Percobaan di UU Bunut, Afdeling III berlangsung selama tiga tahun (2016- 2018).

Perlakuan pemupukan dilakukan 5 kali ulangan pada tanaman kelapa sawit berumur tiga tahun. Variasi perlakuan berupa dosis fosfat yang berbeda per tanaman, yaitu 750 g P-alam reaktivitas sedang, 1.500 g P-alam reaktivitas sedang, 1.500 g Palam reaktivitas tinggi, 1.500 g P-alam reaktivitas rendah, dan 3.000 g Palam reaktivitas sedang. Sampai naskah ini diturunkan, penelitian masih terus berjalan, tetapi hasil sementaranya sudah menunjukkan peningkatan produksi. Sebelumnya, Balittanah pernah bekerja sama dengan perkebunan kelapa sawit milik PT CPKA di Kalsel dan lahan milik Grup Wilmar.

Hasil penelitian menunjukkan peningkatan produktivitas tandan buah segar (TBS) sebanyak 15%- 20% dengan efisiensi pupuk mencapai 25%.